← Kembali ke Peta GIS

Laporan digital interaktif · Cianjur · 2025

Peta Zona Indikatif Infrastruktur Panen Air

Panduan geospasial untuk membaca potensi sumber air, menentukan zona pengembangan infrastruktur, dan mendukung peningkatan indeks pertanaman di Kabupaten Cianjur.

Jelajahi laporan
◈   Kabupaten Cianjur, Jawa Barat◷   Publikasi sumber 2025▤   Berbasis dokumen resmi penyusunan

01 • Ikhtisar

Air, lahan, dan arah pengembangan

Baca pesan utama dari pemetaan indikatif sebelum menelusuri metode, kriteria, dan atlas.

Jenis infrastruktur6

Embung, dam parit, perpompaan, long storage, sumur dangkal, dan sumur dalam

Lembar atlas menurut naskah38

Jumlah yang disebut dalam uraian penyajian peta

Buffer sungai kecil500 m

Sungai orde 1–3 dan sumber terkait menurut uraian kriteria

Buffer sumber besar1.500 m

Jarak maksimum perpompaan dari sungai besar / danau

Intisari kajian

Dari potensi air menjadi arahan intervensi

Peta ini memadukan topografi, hujan, sumber daya air, lahan pertanian, infrastruktur eksisting, dan analisis SIG untuk mengenali lokasi yang secara indikatif dapat mendukung penyediaan air irigasi tambahan.

Kategori yang dibahas menghubungkan potensi air permukaan, air tanah, dan air hujan dengan alternatif infrastruktur yang sesuai karakteristik wilayah. Keluaran atlas dimaksudkan sebagai bahan awal perencanaan, bukan pengganti studi teknis rinci.

02 • Landasan

Mengapa infrastruktur panen air diperlukan?

Latar belakang, tujuan, dan manfaat yang dinyatakan dalam dokumen Peta IPAP Kabupaten Cianjur.

Latar belakang

Latar Belakang

Kabupaten Cianjur, yang terletak di Jawa Barat, Indonesia, dikenal dengan karakteristik agrarisnya, di mana sektor pertanian memegang peranan penting sebagai salah satu sumber pendapatan utama bagi masyarakat. Namun, keberlanjutan sektor pertanian sangat bergantung pada ketersediaan air yang memadai. Fluktuasi curah hujan yang tidak merata dan sulit diprediksi menjadi tantangan besar bagi Cianjur dalam memenuhi kebutuhan air yang terus meningkat, terutama pada musim kemarau. Oleh karena itu, penting bagi daerah ini untuk memiliki infrastruktur yang memadai guna memastikan distribusi air yang merata dan tepat waktu untuk mendukung pertanian.

Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah melalui pembangunan Infrastruktur Panen Air Pertanian (IPAP), yang mencakup waduk, embung, saluran irigasi, dan fasilitas penampungan air lainnya. Infrastruktur ini bertujuan untuk memanfaatkan air hujan yang jatuh pada musim penghujan, yang kemudian disimpan dan dimanfaatkan pada musim kemarau ketika kebutuhan air untuk pertanian mencapai puncaknya. Dengan pengelolaan yang baik, IPAP dapat membantu meningkatkan ketahanan pangan di daerah tersebut, mengurangi ketergantungan pada sumber air alami yang terbatas, dan memastikan keberlanjutan produksi pertanian sepanjang tahun.

Untuk merencanakan pembangunan IPAP yang tepat sasaran, diperlukan pemetaan wilayah yang membutuhkan infrastruktur tersebut. Peta zona indikatif Kabupaten Cianjur disusun untuk memberikan gambaran mengenai wilayah-wilayah yang membutuhkan pembangunan atau perbaikan infrastruktur panen air. Peta ini disusun mengacu pada standar yang ditetapkan dalam SNI 930:2023, yang menjadi pedoman dalam perencanaan pembangunan infrastruktur air di Indonesia. Dengan merujuk pada standar ini, peta yang dihasilkan dapat memberikan data yang lebih akurat mengenai kebutuhan dan potensi pembangunan infrastruktur panen air di wilayah Cianjur.

Dengan adanya peta zona indikatif ini, diharapkan pemerintah dan pihak terkait dapat merencanakan pembangunan infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan daerah, sehingga dapat menciptakan solusi jangka panjang untuk mengatasi permasalahan distribusi air dalam sektor pertanian dan meningkatkan ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur.

Tujuan pemetaan

  • Mengidentifikasi zona atau wilayah di Kabupaten Cianjur yang memerlukan pengembangan infrastruktur panen air atau yang memiliki potensi untuk dibangun infrastruktur tersebut.
  • Memberikan dasar yang kuat bagi pengambilan keputusan oleh pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya dalam merencanakan pembangunan infrastruktur air secara efisien.
  • Membantu meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya air untuk mendukung pertanian, serta menjaga keberlanjutan hasil pertanian di Kabupaten Cianjur.
  • Mempermudah pemantauan dan evaluasi pengelolaan air dalam mendukung ketahanan pangan.

Manfaat yang diharapkan

  • Mempermudah identifikasi wilayah yang membutuhkan intervensi atau pembangunan infrastruktur air.
  • Menjadi alat bantu bagi pemangku kepentingan dalam merencanakan pembangunan infrastruktur yang tepat sesuai dengan kebutuhan spesifik masing-masing zona.
  • Memberikan dasar yang kuat untuk perencanaan kebijakan dan anggaran pembangunan infrastruktur air.
  • Meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani dengan memberikan akses air yang cukup dan merata.

03 • Metodologi

Dari data dasar ke zona indikatif

Rangkaian pengumpulan data dan analisis geospasial untuk memetakan alternatif pengelolaan air.

01Himpun data

Topografi, hujan, sumber air, lahan

02Olah dengan SIG

Overlay dan analisis spasial

03Analisis potensi

Relasi sumber air dan lahan

04Tentukan zona

Padanan kriteria indikator

05Sajikan atlas

Legenda dan indeks peta

Enam kelompok data yang dibahas

01

Data geospasial

Karakteristik fisik dan batas wilayah

02

Topografi

Kontur, elevasi, dan jalur aliran

03

Curah hujan

Pola musiman dan pasokan air hujan

04

Sumber daya air

Sungai, waduk, embung, dan sumur

05

Pertanian

Jenis tanaman, kebutuhan air, dan luas lahan

06

Infrastruktur eksisting

Tampungan air dan saluran irigasi

Uraian lengkap: pengumpulan data dari dokumen sumber

Sebagai langkah awal dalam upaya meningkatkan ketahanan air untuk sektor pertanian, penting untuk melakukan perencanaan yang matang terkait pembangunan Infrastruktur Panen Air Pertanian (IPAP). Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah memetakan wilayah yang membutuhkan infrastruktur panen air yang lebih baik, sehingga dapat memberikan solusi tepat sasaran dan meningkatkan efektivitas penggunaan sumber daya air yang ada. Peta zona indikatif menjadi alat yang sangat penting dalam proses ini, karena dapat menggambarkan secara jelas daerah-daerah yang paling membutuhkan pembangunan atau perbaikan infrastruktur air, serta potensi pengembangan yang dapat dilakukan di wilayah tersebut. Pemetaan ini juga dapat membantu pemerintah daerah dan pihak terkait dalam merancang kebijakan dan program yang lebih terarah dalam meningkatkan keberlanjutan pertanian. Oleh karena itu, penting untuk menyusun peta zona indikatif dengan metode yang sistematis dan berbasis pada standar yang berlaku, guna menghasilkan informasi yang akurat dan dapat diandalkan. Selanjutnya, akan dijelaskan metode yang digunakan dalam pembuatan peta zona indikatif untuk Kabupaten Cianjur.

Pengumpulan Data

Data Geospasial

Langkah pertama dalam pembuatan peta zona indikatif ini adalah pengumpulan data geospasial yang mencakup berbagai informasi tentang kondisi fisik wilayah Kabupaten Cianjur. Data geospasial sangat penting untuk menentukan karakteristik geografis, topografi, serta sumber daya alam yang ada di wilayah tersebut.

Peta Topografi

Peta topografi merupakan peta yang menggambarkan bentuk permukaan bumi dengan menunjukkan kontur dan perubahan ketinggian suatu wilayah. Dalam konteks pembangunan infrastruktur panen air, peta topografi digunakan untuk menganalisis kemiringan tanah, kedalaman tanah, dan jalur aliran air. Kondisi topografi yang berbukit, misalnya, bisa mempengaruhi bagaimana air mengalir dan di mana harus dibangun waduk atau saluran irigasi.

Untuk wilayah Kabupaten Cianjur, peta topografi sangat penting karena sebagian besar daerahnya berbukit atau memiliki kemiringan yang cukup tajam. Hal ini bisa menyulitkan distribusi air secara merata ke seluruh wilayah pertanian. Oleh karena itu, peta topografi harus digunakan untuk menentukan daerah yang membutuhkan pembangunan infrastruktur seperti saluran irigasi atau waduk untuk menampung air hujan.

Data Curah Hujan

Curah hujan adalah salah satu faktor utama yang mempengaruhi ketersediaan air untuk pertanian. Dengan menganalisis data curah hujan historis, kita dapat memahami pola distribusi air hujan dan memprediksi seberapa banyak air yang tersedia di wilayah Cianjur. Data curah hujan ini sangat penting untuk merencanakan kapasitas tampungan air yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan pertanian sepanjang tahun.

Data curah hujan dapat diperoleh dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) atau stasiun cuaca lokal. Analisis curah hujan juga harus dilakukan untuk mengetahui pola hujan tahunan dan distribusi hujan berdasarkan musim. Misalnya, curah hujan yang tinggi di musim penghujan dapat dimanfaatkan untuk pengisian waduk atau embung, yang kemudian akan digunakan pada musim kemarau.

Peta Sumber Daya Air

Peta sumber daya air mencakup informasi mengenai keberadaan sungai, waduk, embung, dan sumur di wilayah Kabupaten Cianjur. Data ini penting untuk menentukan apakah daerah tersebut memiliki potensi air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pertanian. Peta sumber daya air membantu untuk menentukan di mana infrastruktur penampungan air harus dibangun dan bagaimana air akan didistribusikan ke lahan pertanian.

Sumber daya air yang ada di Kabupaten Cianjur mencakup sungai-sungai besar yang dapat dimanfaatkan untuk irigasi, serta waduk atau embung yang sudah ada. Namun, daerah yang lebih terpencil mungkin masih memiliki akses terbatas terhadap sumber daya air ini, sehingga pembangunan infrastruktur air tambahan sangat diperlukan.

Data Pertanian

Jenis Tanaman dan Kebutuhan Air

Di Kabupaten Cianjur, terdapat berbagai jenis tanaman yang dibudidayakan, seperti padi, sayuran, dan buah-buahan. Setiap jenis tanaman memiliki kebutuhan air yang berbeda-beda. Oleh karena itu, data jenis tanaman yang dibudidayakan sangat penting untuk merencanakan pembangunan infrastruktur air yang sesuai dengan kebutuhan spesifik masing-masing tanaman.

Tanaman padi, misalnya, membutuhkan pasokan air yang sangat besar, terutama di musim tanam. Sebaliknya, tanaman sayuran dan buah-buahan mungkin memiliki kebutuhan air yang lebih rendah. Dengan mengetahui jenis tanaman yang dominan dibudidayakan di setiap daerah, kita dapat menyesuaikan desain infrastruktur panen air agar dapat memenuhi kebutuhan air tanaman tersebut dengan lebih efisien.

Luas Lahan Pertanian

Luas lahan pertanian adalah salah satu faktor penting dalam perencanaan infrastruktur. Wilayah yang memiliki lahan pertanian yang luas akan membutuhkan kapasitas infrastruktur yang lebih besar. Oleh karena itu, data luas lahan pertanian di Kabupaten Cianjur sangat penting untuk menentukan kebutuhan kapasitas infrastruktur panen air yang diperlukan.

Data luas lahan ini dapat diperoleh dari Peta Lahan Baku Sawah (ATR/BPN, 2024) yang mencatat seluruh luas lahan yang digunakan untuk pertanian, baik untuk tanaman pangan maupun non-pangan. Peta ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai distribusi lahan pertanian yang memerlukan pengelolaan air yang lebih baik.

Data Infrastruktur yang Ada

Infrastruktur Penampungan Air

Di Kabupaten Cianjur, beberapa wilayah sudah memiliki infrastruktur penampungan air seperti waduk dan embung, yang berfungsi untuk menampung air hujan dan menyediakannya untuk kebutuhan irigasi pada musim kemarau. Pemetaan infrastruktur yang ada sangat penting untuk mengetahui kapasitas infrastruktur tersebut dan bagaimana distribusi airnya ke lahan pertanian.

Saluran Irigasi

Saluran irigasi adalah salah satu elemen kunci dalam distribusi air untuk pertanian. Di beberapa daerah, saluran irigasi yang ada sudah tidak memadai untuk mengalirkan air ke seluruh lahan pertanian, terutama pada musim kemarau. Oleh karena itu, penting untuk memetakan saluran irigasi yang ada dan mengevaluasi kapasitasnya agar bisa disesuaikan dengan kebutuhan irigasi yang ada.

Uraian lengkap: analisis data dan perangkat SIG

Analisis Data dan Pengolahan Informasi

Sistem Informasi Geografis (SIG)

Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah teknologi yang digunakan untuk mengumpulkan, mengelola, menganalisis, dan memvisualisasikan data geospasial. SIG mengintegrasikan berbagai jenis data yang terkait dengan lokasi geografis, seperti data topografi, penggunaan lahan, iklim, dan sumber daya alam, yang memungkinkan analisis yang lebih komprehensif dan mendalam. Dengan menggunakan SIG, kita dapat mengidentifikasi pola, tren, dan hubungan dalam data geospasial, serta membuat peta yang memberikan wawasan yang lebih jelas dan mudah dipahami.

Pada tahap ini, SIG akan digunakan untuk mengolah data yang telah dikumpulkan selama tahap pengumpulan data geospasial. Data tersebut bisa mencakup informasi tentang kontur tanah, aliran sungai, distribusi curah hujan, serta data sosial ekonomi yang relevan. Dengan menggunakan alat-alat analisis dalam SIG, data-data ini dapat digabungkan untuk menghasilkan peta tematik yang menunjukkan daerah-daerah yang memerlukan infrastruktur panen air, serta memperkirakan potensi penggunaan sumber daya air di wilayah tersebut.

Proses pengolahan dan analisis data menggunakan SIG juga melibatkan pemodelan spasial untuk mengidentifikasi area-area yang memiliki potensi untuk mengembangkan infrastruktur panen air, seperti waduk atau embung, serta menentukan lokasi yang paling efektif untuk penampungan air hujan. Hasil analisis ini akan menjadi dasar bagi pembuatan peta zona indikatif yang menggambarkan daerah-daerah prioritas dalam pembangunan atau perbaikan infrastruktur air.

Keuntungan utama dari penggunaan SIG adalah kemampuannya untuk memberikan representasi visual yang jelas dan informatif, serta mendukung pengambilan keputusan yang berbasis data. Dengan demikian, SIG berperan penting dalam menghasilkan peta yang tidak hanya akurat, tetapi juga berguna dalam merencanakan pembangunan infrastruktur air yang tepat sasaran dan berkelanjutan.

Penggunaan Perangkat SIG

Perangkat Sistem Informasi Geografis (SIG) seperti ArcGIS dan QGIS merupakan alat utama yang digunakan dalam menganalisis data geospasial yang telah dikumpulkan. Kedua perangkat ini memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mengolah dan menganalisis data spasial, sehingga sangat berguna untuk menghasilkan peta yang menggambarkan kondisi geografis secara mendetail. Dengan menggunakan perangkat ini, kita dapat melakukan berbagai analisis spasial, seperti overlay peta, analisis jarak, dan pemodelan aliran air, yang sangat penting untuk merencanakan pembangunan infrastruktur panen air.

ArcGIS dan QGIS menyediakan berbagai fitur yang memungkinkan pengguna untuk menggabungkan data geospasial dari berbagai sumber, serta melakukan pemrosesan dan analisis yang mendalam. Kedua perangkat ini memungkinkan pembuatan peta tematik yang dapat menunjukkan kawasan dengan potensi kebutuhan air yang besar, serta mengidentifikasi lokasi-lokasi yang strategis untuk pembangunan infrastruktur seperti waduk, embung, dan saluran irigasi. Misalnya, dengan menggunakan alat analisis jarak dan ketinggian dalam perangkat SIG, kita dapat menentukan lokasi terbaik untuk membangun infrastruktur yang memanfaatkan aliran air alami dan kontur tanah yang ada.

Proses pengolahan data menggunakan perangkat SIG ini memungkinkan kita untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang paling membutuhkan perhatian dalam hal distribusi air, serta mengoptimalkan penggunaan sumber daya air yang ada. Dengan bantuan perangkat ini, peta yang dihasilkan menjadi lebih akurat dan dapat dijadikan dasar dalam perencanaan pembangunan infrastruktur air yang lebih efisien dan berkelanjutan. Keunggulan perangkat SIG adalah kemampuannya untuk memvisualisasikan data dalam bentuk peta yang mudah dipahami, sehingga dapat mempermudah pengambilan keputusan oleh pihak yang berkepentingan.

Diagram alur pengolahan

Gambar tahapan asli disertakan agar hubungan antartahap dapat dibaca sebagaimana pada naskah. Klik untuk memperbesar rincian diagram.

Diagram merupakan gambar dokumen sumber, bukan ilustrasi baru.

Gambar 4. Tahapan Pengolahan Data Peta Zona Indikatif Infrastruktur Panen Air Kabupaten Cianjur

04 • Enam alternatif

Pilih pendekatan menurut sumber air

Deskripsi jenis infrastruktur pada naskah, beserta gambar visualisasi asli.

Dalam SNI 930:2023, yang merupakan pedoman perencanaan infrastruktur air untuk pertanian, terdapat berbagai jenis infrastruktur yang dirancang untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya air secara efisien. Beberapa jenis infrastruktur yang diatur dalam standar ini adalah embung, dam parit, perpompaan, long storage, sumur dangkal, dan sumur dalam. Masing-masing infrastruktur ini memiliki fungsi yang sangat spesifik sesuai dengan kebutuhan daerah dan kondisi geografis yang ada. Berikut adalah penjelasan mengenai jenis-jenis infrastruktur tersebut berdasarkan SNI 930:2023:

Enam opsi, karakteristik berbeda

Setiap alternatif dalam dokumen bergantung pada karakteristik sumber air dan kondisi wilayah. Pemilihan tidak cukup hanya dari satu indikator.

01
EmbungAir hujan / tampungan
⌄

Embung adalah struktur penampungan air yang dirancang untuk menyimpan air hujan selama musim penghujan, yang kemudian dapat digunakan pada musim kemarau untuk kebutuhan pertanian. Embung ini berfungsi sebagai cadangan air yang membantu menjamin ketersediaan air untuk irigasi dan pertanian. Desain embung, berdasarkan SNI 930:2023, harus memperhatikan kapasitas tampung, kedalaman, dan lokasi yang strategis untuk memaksimalkan fungsinya sebagai tempat penyimpanan air yang efisien.

02
Dam ParitAir permukaan
⌄

Dam parit adalah kombinasi antara dam (bendungan kecil) dan parit, yang berfungsi untuk menampung dan mengalirkan air ke area pertanian. Dalam hal ini, dam parit berfungsi untuk mengendalikan aliran air dan menyimpannya untuk digunakan dalam periode yang lebih panjang. Desain dam parit sesuai dengan SNI 930:2023 mencakup dimensi bendungan kecil untuk penampungan air dan saluran parit untuk distribusi air yang merata. Infrastruktur ini sangat cocok untuk wilayah dengan lahan pertanian yang luas dan membutuhkan sistem pengairan yang efisien dan terkontrol.

03
PerpompaanAir permukaan / air tanah
⌄

Perpompaan digunakan untuk mengalirkan air dari satu tempat ke tempat lain, misalnya dari sumur atau waduk menuju lahan pertanian. Perpompaan sangat penting di daerah dengan topografi yang menuntut pengaliran air ke ketinggian tertentu atau ketika aliran air alami tidak mencukupi. Berdasarkan SNI 930:2023, desain sistem perpompaan harus mempertimbangkan kapasitas pompa, kebutuhan daya, dan efisiensi pengaliran air agar distribusi air ke lahan pertanian berjalan optimal. Sistem perpompaan yang efisien dapat memastikan pasokan air yang stabil, terutama di wilayah yang tidak memiliki akses mudah ke sumber air permukaan.

04
Long StorageTampungan memanjang
⌄

Long storage adalah fasilitas penyimpanan air jangka panjang, yang lebih besar dibandingkan dengan embung, dan digunakan untuk menampung air dalam jumlah besar selama musim penghujan untuk digunakan pada musim kemarau. Long storage berfungsi untuk memastikan ketersediaan air dalam jangka waktu panjang bagi pertanian. Dalam SNI 930:2023, desain long storage harus memperhatikan kapasitas penyimpanan yang dapat mengakomodasi kebutuhan air pertanian dalam periode yang lebih lama serta pengelolaan air yang optimal.

05
Sumur DangkalAir tanah dangkal
⌄

Sumur dangkal adalah sumur yang dibangun pada kedalaman yang relatif lebih dekat dengan permukaan tanah, untuk mengambil air dari lapisan air tanah yang dangkal. Sumur dangkal biasanya digunakan di daerah yang memiliki lapisan air tanah yang dekat dengan permukaan dan dapat digunakan untuk menyuplai kebutuhan air pertanian dalam skala kecil hingga menengah. SNI 930:2023 memberikan pedoman mengenai kedalaman dan diameter sumur dangkal agar dapat berfungsi secara optimal dan memenuhi kebutuhan air.

06
Sumur DalamAir tanah dalam
⌄

Sumur dalam dibor untuk mencapai lapisan air tanah yang lebih dalam, di daerah yang sumber air tanahnya berada jauh di bawah permukaan. Sumur ini digunakan ketika sumur dangkal tidak dapat mencukupi kebutuhan air, dan sangat berguna di daerah yang kekurangan pasokan air permukaan. Berdasarkan SNI 930:2023, sumur dalam harus dirancang dengan memperhitungkan kedalaman yang sesuai, teknik pengeboran yang tepat, serta peralatan yang digunakan untuk mengakses air tanah secara efisien.

Visualisasi asli tiap kelompok

Materi visual pada dokumen dipertahankan tanpa mengubah isi gambar.

Gambar 1. Visualisasi dan Kriteria IPAP Dam Parit dan Perpompaan
Gambar 2. Visualisasi dan Kriteria IPAP Long Storage dan Embung
Gambar 3. Visualisasi dan Kriteria IPAP Sumur Dangkal dan Sumur Dalam

05 • Analisis spasial

Kriteria penetapan zona potensial

Ambang jarak, kelas lereng, kondisi hidrogeologi, dan tabel padanan jenis IPAP sesuai berkas sumber.

SNI 9230:2023 menetapkan spesifikasi informasi geospasial untuk zona indikatif pengembangan infrastruktur panen air, termasuk prosedur penetapan lokasi lahan potensial berdasarkan sumber air di kawasan pengembangan. Sumber air untuk enam infrastruktur panen air dapat berasal dari air permukaan, tanah, dan hujan. Lahan target untuk peningkatan indeks pertanaman (IP) meliputi sawah tadah hujan, lahan kering, dan lahan tegalan. Standar ini digunakan untuk menetapkan lokasi sawah tadah hujan yang berpotensi untuk program pompanisasi, dengan langkah-langkah penentuan infrastruktur sesuai potensi sumber daya air di wilayah tersebut.

≤ 500 mSawah tadah hujan dekat sungai orde 1–3 menurut uraian zona dam parit/perpompaan
≤ 1.500 mJangkauan maksimum untuk perpompaan pada sumber besar / danau
10 kmPembeda indikatif zona long storage dan embung menurut jarak pantai
0–2%Kelas kemiringan lereng yang ditunjukkan dalam tabel kriteria

Tahap penetapan zona potensial

01Pengolahan Zona Lahan Pengembangan IPAP Perpompaan dan Dam Parit⌄

Pengolahan zona lahan untuk pengembangan Infrastruktur Panen Air Pertanian (IPAP) berupa perpompaan dan dam parit dilakukan dengan menetapkan lokasi pada lahan sawah tadah hujan yang berjarak 500 meter dari sungai orde 1 hingga sungai orde 3 serta danau. Hal ini bertujuan untuk memperoleh zona yang optimal dalam pembangunan infrastruktur pengelolaan air, dengan memanfaatkan sumber air yang sudah ada di sekitar wilayah tersebut. Penentuan orde sungai dilakukan menggunakan metode Strahler, yang mengklasifikasikan sungai berdasarkan ukuran dan aliran airnya. Metode ini membantu dalam menentukan kapasitas dan potensi sumber air dari sungai untuk kebutuhan irigasi. Adapun untuk pengembangan perpompaan pada sungai besar atau danau, ditetapkan jarak maksimum sejauh 1.500 meter. Pengolahan zona ini penting untuk memastikan bahwa distribusi air dari sumber besar, seperti sungai atau danau, dapat menjangkau lahan pertanian yang berada dalam jangkauan tersebut, memastikan ketersediaan air yang cukup bagi sawah tadah hujan yang membutuhkan irigasi tambahan.

02Pengolahan Zona Lahan Pengembangan IPAP Sumur Dangkal dan Sumur Dalam⌄

Pengolahan zona untuk sumur dangkal dan sumur dalam dilakukan pada sawah tadah hujan di kawasan cekungan air tanah, dengan peta hidrogeologi sebagai acuan. Peta ini membantu memetakan daerah dengan lapisan air tanah yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian. Sumur dangkal cocok untuk daerah dengan air tanah dekat permukaan, sementara sumur dalam untuk daerah dengan kedalaman air tanah lebih dalam, memastikan pemanfaatan air tanah yang optimal sesuai karakteristik daerah.

03Pengolahan Zona Lahan Pengembangan IPAP Long Storage⌄

Zona untuk pengembangan long storage ditetapkan pada lokasi sawah tadah hujan yang berada pada jarak maksimum sejauh 10 km dari garis pantai. Long storage berfungsi sebagai fasilitas penyimpanan air dalam jumlah besar selama musim penghujan untuk digunakan pada musim kemarau. Peta garis pantai digunakan untuk menentukan batasan zona ini, dengan asumsi bahwa wilayah yang lebih dekat dengan pantai cenderung memiliki ketersediaan sumber air yang lebih baik, baik dari curah hujan atau pasokan air permukaan. Pengolahan zona ini bertujuan untuk memastikan bahwa wilayah yang terpilih memiliki kapasitas untuk menyimpan air dalam jumlah besar, sehingga dapat mendukung kebutuhan air pertanian dalam jangka panjang.

04Pengolahan Zona Lahan Pengembangan IPAP Embung⌄

Zona pengembangan untuk embung ditetapkan pada lahan sawah tadah hujan yang tidak memiliki potensi air permukaan atau air tanah yang cukup dan terletak lebih dari 10 km dari pantai. Sumber air untuk embung ini berasal dari curah hujan atau mata air terdekat. Pemetaan ini sangat penting untuk memilih lokasi yang cocok untuk pembangunan embung, di mana curah hujan dapat dimanfaatkan sebagai cadangan air, sementara potensi mata air yang terdekat juga dapat dimanfaatkan untuk mengisi embung yang akan menyuplai air ke lahan pertanian. Embung ini berfungsi sebagai penyimpanan air yang akan digunakan pada musim kemarau, membantu mengurangi ketergantungan pada sumber air lainnya.

05Penentuan Jenis IPAP dan Luasan Target Irigasi⌄

Jenis IPAP dan luasan target irigasinya ditentukan melalui analisis tumpang susun antara peta lahan dan peta kemiringan lereng (0%–2%). Metode matching digunakan untuk mencocokkan peta-peta tersebut, menentukan area yang tepat untuk pembangunan infrastruktur seperti dam parit, perpompaan, atau long storage. Analisis ini memastikan infrastruktur dibangun di lahan yang sesuai berdasarkan kondisi fisik dan kemiringan lereng. Kriteria penentuan jenis IPAP dijelaskan dalam Tabel 1, yang merinci kesesuaian jenis IPAP dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan air pertanian.

Tabel 1 · Kriteria penentuan jenis IPAP

Seluruh angka dan tanda pada tabel ditampilkan seperti dokumen sumber.

NoKapasitas layanan irigasi (x dalam hm2)Jarak dari air permukaan (m)Jarak dari pantai (m)Kemiringan lerengHidrogeologiOrde sungaiJenis IPAP
12<x≤10>1.500-0% s.d. 2%Akuifer produksi sedang-Sumur dangkal
22<x≤8>1.500>10.0000% s.d. 2%Non akuifer-Embung
32<x≤8>1.500<10.0000% s.d. 2%Non akuifer-Long storage
410<x≤20>1.500-0% s.d. 2%Akuifer produksi tinggi-Sumur dalam t
62<x≤75≤1.500-0% s.d. 2%Non akuifer≥4Perpompaan
725<x≤00<500-0% s.d. 2%Non akuifer3 s.d. 1Dam parit

Catatan ketelitian sumber

Penomoran baris pada Tabel 1 sebagaimana berkas yang diberikan adalah 1, 2, 3, 4, 6, dan 7 (tanpa nomor 5). Pada baris tertentu tercantum teks “Sumur dalam t” dan “25<x≤00”; keduanya dipertahankan, tidak ditafsirkan sebagai batas teknis yang sudah terverifikasi. Acuan standar dalam naskah juga ditulis dengan dua nomor berbeda (930 dan 9230). Gunakan dokumen standar asli dan verifikasi lapangan sebelum penetapan desain.

Jelajah ambang jarak indikatif

Alat bantu ini hanya memeriksa jarak dan kemiringan berdasarkan angka yang tercantum pada uraian sumber. Ini bukan penentuan kelayakan teknis, debit, atau lokasi final.

Titik ke sungai/danau
Untuk indikasi tampungan
Kelas sumber 0–2%

Masukkan satu atau beberapa nilai untuk melihat hubungan dengan ambang dalam naskah.

Checklist verifikasi lapangan

Daftar tindak lanjut berdasarkan catatan kehati-hatian dan kebutuhan data pada dokumen. Centang sesuai kemajuan kerja; status disimpan hanya di browser ini.

0 dari 5 langkah selesai

06 • Peta dan indeks

Menavigasi atlas Kabupaten Cianjur

Legenda asli, gambar indeks area, dan daftar lokasi lembar peta yang tercetak dalam dokumen.

Penyajian Peta

Penyajian Visual

Secara visual, peta IPAP disajikan menggunakan konsep atlas, yaitu penyusunan peta dalam bentuk lembaran-lembaran yang memuat informasi secara komprehensif tentang satu wilayah atau area tertentu. Dengan konsep ini, setiap lembar peta akan menggambarkan rincian mengenai potensi sumber daya air, kondisi lahan, serta wilayah yang memerlukan pembangunan infrastruktur air. Pendekatan ini memungkinkan pengguna peta untuk dengan mudah mencari dan menganalisis data di tingkat kecamatan atau wilayah yang lebih kecil.

Peta-peta terdiri dari 38 lembar, dengan pendekatan pengelompokan berdasarkan kecamatan yang berdekatan. Hal ini bertujuan untuk memberikan visualisasi yang lebih detail dan fokus pada masing-masing wilayah yang memiliki karakteristik serupa dalam hal kebutuhan air pertanian dan potensi sumber daya air. Setiap lembar peta akan menggambarkan satu atau beberapa kecamatan yang saling berdekatan, memudahkan analisis dan perencanaan pengembangan IPAP di kawasan tersebut.

Legenda Peta

Legenda akan membantu pengguna peta dalam memahami simbol-simbol yang digunakan untuk menggambarkan berbagai elemen pada peta, mulai dari batas administratif hingga jenis infrastruktur panen air yang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Kabupaten Cianjur.

Berikut adalah legenda yang digunakan dalam peta yang menggambarkan Agroklimat dan Infrastruktur Panen Air:

Gambar 5. Legenda Peta

Batas administratif

  • Batas kecamatan: garis putus-putus oranye
  • Batas kabupaten: garis putus-putus hitam

Agroekosistem

  • Lahan kering: garis diagonal hitam satu arah
  • Sawah (LBS): garis diagonal hitam berlawanan arah

Lokasi potensi peningkatan IP

  • Dam parit: merah
  • Embung: kuning
  • Long storage: merah muda
  • Perpompaan: biru
  • Sumur dangkal: ungu

Daftar warna di sisi kanan mengikuti teks asli. Gambar legenda di sisi kiri juga dipertahankan sebagai bukti visual sumber.

Gambar 6. Indeks Peta Zona Indikatif Infrastruktur Panen Air (IPAP) Kabupaten Cianjur
Indeks spasial dalam laporanMembaca atlas per lembar

Gambar indeks memperlihatkan pembagian area lembar di Kabupaten Cianjur. Klik untuk memperbesar. Dalam berkas yang diberikan, yang tersedia adalah indeks lembar serta tabel daftar lokasi, bukan data geometri GIS atau seluruh gambar tiap lembar atlas.

38 lembar disebut dalam narasi, sedangkan daftar yang tercetak dalam dokumen ini memiliki 27 baris, termasuk satu kode C4 yang muncul dua kali. Perbedaan ini tidak disembunyikan.

Peta disajikan berdasarkan indeks peta yang terdiri dari 38 lembar peta, disusun dengan sistematika yang menggambarkan wilayah-wilayah berdasarkan kecamatan di Kabupaten Cianjur. Peta-peta ini dirancang untuk memetakan potensi sumber daya air dan kebutuhan infrastruktur panen air pertanian di setiap kecamatan. Setiap lembar peta disusun dengan format yang memudahkan pengguna untuk mencari informasi secara sistematis, berdasarkan indeks yang terstruktur dengan baik seperti terlihat pada Gambar 6. Dengan sistematika penyusunan peta ini, diharapkan dapat mempermudah perencanaan dan pengambilan keputusan terkait pengelolaan air untuk sektor pertanian di Kabupaten Cianjur.

Indeks lokasi dan halaman lembar peta

Cari kecamatan, kode lembar, atau nomor halaman (mengikuti tabel sumber).

LembarLokasiHalaman
Lembar Peta A2Kecamatan Cipanas, Pacet14
Lembar Peta A3Kecamatan Cipanas, Pacet, Sukaresmi, Cikalongkulon, Mande15
Lembar Peta A4Kecamatan Sukaresmi, Cikalongkulon, Mande16
Lembar Peta A5Kecamatan Cikalongkulon, Mande17
Lembar Peta B3Kecamatan Cipanas, Pacet, Cugenang, Warungkondang, Gekbrong, Mande, Cibeber Cianjur, Sukaresmi, Cilaku, Karangtengah18
Lembar Peta B4Kecamatan Cugenang, Cianjur, Mande, Karangtengah, Sukaluyu, Ciranjang, Cilaku Bojongpicung, Cibeber, Warungkondang19
Lembar Peta B5Kecamatan Karangtengah, Mande, Sukaluyu, Ciranjang, Bojongpicung, Haurwangi20
Lembar Peta C2Kecamatan Campaka, Takokak, Sukanagara21
Lembar Peta C3Kecamatan Gekbrong, Warungkondang, Campaka, Campakamulya, Sukanagara Takokak, Cibeber22
Lembar Peta C4Kecamatan Warungkondang, Cibeber, Bojongpicung, Campaka, Campakamulya, Sukanagara23
Lembar Peta C4Kecamatan Warungkondang, Cibeber, Bojongpicung, Campaka, Campakamulya, Sukanagara24
Lembar Peta D2Kecamatan Takokak, Sukanagara, Kadupandak25
Lembar Peta D3Kecamatan Takokak, Sukanagara, Pagelaran, Kadupandak26
Lembar Peta D4Kecamatan Sukanagara, Campakamulya, Pagelaran, Pasirkuda27
Lembar Peta D5Kecamatan Campakamulya, Pagelaran Pasirkuda28
Lembar Peta E1Kecamatan Agrabinta Lembar Peta29
Lembar Peta E2Kecamatan Agrabinta, Takokak, Kadupandak, Cijati, Leles30
Lembar Peta E3Kecamatan Kadupandak, Cijati, Leles, Pagelaran, Tanggeung, Pasirkuda Cibinong31
Lembar Peta E4Kecamatan Pagelaran, Tanggeung, Pasirkuda, Cibinong, Cikadu32
Lembar Peta E5Kecamatan Pasirkuda, Cibinong, Cikadu, Naringgul, Cidaun33
Lembar Peta E6Kecamatan Cikadu, Naringgul, Cidaun34
Lembar Peta F1Kecamatan Agrabinta35
Lembar Peta F2Kecamatan Agrabinta, Leles, Sindangbarang36
Lembar Peta F3Kecamatan Agrabinta, Leles, Sindangbarang, Cibinong37
Lembar Peta F4Kecamatan Cibinong, Sindabarang, Cikadu Naringgul, Cidaun38
Lembar Peta F5Kecamatan Cikadu, Naringgul, Cidaun39
Lembar Peta F6Kecamatan Naringgul, Cidaun40

07 • Penutup

Kesimpulan dan tindak lanjut

Arahan yang dinyatakan oleh penyusun sumber untuk optimalisasi air, keberlanjutan, serta penguatan koordinasi.

Kesimpulan dalam naskah

Berdasarkan hasil kajian dan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pengembangan Infrastruktur Panen Air Pertanian (IPAP) di Kabupaten Cianjur memerlukan pendekatan yang komprehensif dengan memperhatikan kondisi geografis dan sumber daya air yang tersedia.

Pengolahan zona lahan berdasarkan potensi sumber air—baik dari air permukaan, tanah, maupun hujan—merupakan langkah kunci dalam merancang infrastruktur yang efektif.

Peta zona indikatif yang dihasilkan dari analisis ini dapat menjadi acuan dalam menentukan jenis IPAP yang sesuai, seperti waduk, embung, saluran irigasi, sumur dangkal, sumur dalam, long storage, dam parit, dan perpompaan.

Tiga rekomendasi utama

  • Optimalisasi Pemanfaatan Sumber Air: Pengelolaan sumber air yang ada, baik air permukaan, tanah, maupun hujan, perlu dioptimalkan dengan pembangunan infrastruktur yang sesuai. Setiap wilayah harus mendapatkan jenis IPAP yang tepat sesuai dengan kondisi geospasial dan kebutuhan airnya.
  • Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan: Infrastruktur seperti sumur dangkal, sumur dalam, dan embung harus dirancang dengan memperhatikan keberlanjutan, sehingga dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi sektor pertanian.
  • Peningkatan Koordinasi dan Kerjasama: Kerjasama antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pihak terkait sangat penting dalam merealisasikan pembangunan infrastruktur panen air. Pendekatan kolaboratif akan mempercepat implementasi dan memastikan bahwa program ini dapat berjalan secara efektif.
Saran tindak lanjut
  • Pemerintah terus mengembangkan dan memperbarui peta indikatif pengembangan IPAP berdasarkan perkembangan peta yang dikeluarkan oleh setiap wali data.
  • Diperlukan kajian lebih lanjut mengenai dampak jangka panjang dari berbagai jenis infrastruktur yang dibangun, serta upaya mitigasi terhadap risiko lingkungan yang mungkin timbul.
  • Program pelatihan dan penyuluhan kepada petani dan masyarakat terkait pentingnya pengelolaan sumber daya air yang efisien harus terus dilakukan.

Uji pemahaman isi laporan

Kuis opsional ini menggunakan informasi yang tercantum di dokumen sumber.

08 • Referensi istilah

Glosarium teknis

Definisi yang dibawa langsung dari daftar istilah dokumen, dapat dicari dan dibuka per istilah.

Istilah teknis sumber

agroklimat

Ilmu yang mempelajari hubungan antara iklim dan aktivitas pertanian, serta dampaknya terhadap produktivitas pertanian.

air permukaan

semua air yang terdapat pada permukaan tanah

air tanah

air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah

akuifer

Lapisan atau struktur geologi yang menyimpan dan mengalirkan air tanah, yang dapat dimanfaatkan untuk pasokan air.

akumulasi aliran (flow accumulation)

deteksi jumlah data aliran yang melewati suatu data grid raster sesuai dengan arah aliran

analisis spasial

sekumpulan teknik yang dapat digunakan dalam pengelolaan data dan informasi geospasial

arah aliran (flow direction)

deteksi arah suatu aliran sungai akan mengalir

daerah aliran sungai (DAS)

wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alamiah yang batas di darat yang merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan

dam parit

infrastruktur/bangunan yang dibuat dengan membendung sungai kecil serta mendistribusikan air untuk mengairi lahan di sekitarnya

danau

wadah air di permukaan bumi dan ekosistemnya yang terbentuk secara alami yang di-batasi sekelilingnya oleh sempadan danau

drainage network extraction

proses yang dilakukan untuk menganalisis jaringan sungai yang terdapat pada suatu liputan wilayah tertentu

drainage network ordering

proses yang dilakukan untuk menganalisis seluruh jaringan pengaliran yang terdapat pada suatu liputan wilayah tertentu yang setiap segmen sungainya ditandai dengan ID yang unik dan diberi nomor orde dengan metode tertentu

embung

kolam yang dibuat untuk menampung air, baik yang berasal dari curah hujan, aliran permukaan maupun mata air, sebagai cadangan air untuk mengatasi kekeringan

fill sink

proses untuk menghilangkan eror piksel yang membentuk cekungan lokal (local depression) yang dapat menyebabkan aliran terhenti

hidrogeologi

istilah yang menunjukkan cabang hidrologi yang berkaitan dengan perairan bawah permukaan atau bawah tanah

hutan

kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan

indeks pertanaman

rata-rata masa tanam dan panen dalam satu tahun pada lahan yang sama

informasi geospasial (IG)

data tentang lokasi geografis, dimensi atau ukuran, dan/atau karakteristik objek alam dan/atau buatan manusia yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi yang sudah diolah sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perumusan kebijakan, pengambilan keputusan, dan/atau pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang kebumian

infrastruktur panen air pertanian (IPAP)

prasarana dan sarana pertanian yang dibangun untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber air permukaan dan air tanah untuk menyediakan sumber irigasi alternatif pada saat sumber irigasi utama tidak cukup memenuhi kebutuhan air tanaman

irigasi

usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian

Kapasitas Irigasi

kemampuan suatu infrastruktur untuk mengalirkan atau menyimpan air untuk keperluan irigasi lahan pertanian dalam jumlah tertentu.

kapasitas layanan irigasi

kemampuan infrastruktur panen air untuk menyediakan kebutuhan irigasi, yang dinyatakan sebagai luas lahan yang dapat diairi dalam satuan hektare

Kriteria Penetapan Wilayah Potensial

Kriteria yang digunakan untuk menentukan lokasi yang tepat untuk pembangunan infrastruktur panen air berdasarkan berbagai faktor geospasial, termasuk ketersediaan air dan topografi.

lahan

bagian daratan dari permukaan bumi sebagai suatu lingkungan fisik yang meliputi tanah beserta segenap faktor yang mempengaruhi penggunaannya, seperti iklim, relief, aspek geologi, dan hidrologi yang terbentuk secara alami maupun akibat pengaruh manusia

lahan kering

lahan bukan sawah yang diusahakan di bagian hulu pada daerah aliran sungai (DAS) atau lahan atas (upland) yang terdapat di daerah kering (air terbatas) dan menggunakan sistem tadah hujan sebagai sumber ketersediaan air

lahan pertanian

bidang lahan yang digunakan untuk usaha pertanian

lahan sawah

area tanah pertanian basah dan/atau kering yang digenangi air secara periodik dan/atau terus menerus ditanami padi dan/atau diselingi dengan tanaman semusim lainnya

lahan tegalan

tanah yang ditanami palawija yang pengairannya mengandalkan air hujan dan tidak dapat diubah menjadi sawah

long storage

tampungan air permukaan dengan bentuk memanjang yang berfungsi untuk menanggulangi kelebihan air (drainase) ketika musim hujan dan sebagai sumber irigasi tambahan pada musim kemarau

metadata

informasi tentang sumber daya

model elevasi digital/digital elevation model (DEM)

data nilai ketinggian permukaan bumi hasil akuisisi dan interpolasi dengan metode tertentu berdasarkan koordinat dua dimensinya

Orde Sungai

Klasifikasi sungai berdasarkan ukuran dan kapasitas aliran airnya, digunakan untuk menentukan kapasitas sumber air untuk irigasi dan infrastruktur lainnya.

perpompaan

instalasi/pemasangan pompa irigasi untuk memanfaatkan sumber air permukaan dan air tanah yang memiliki elevasi/permukaan air lebih rendah dari lahan dan mendistribusikan melalui saluran irigasi secara gravitasi atau melalui sistem irigasi perpipaan

peta

gambaran dari permukaan bumi pada suatu bidang datar yang dibuat secara kartografis menurut proyeksi dan skala tertentu dengan menyajikan unsur alam dan buatan serta informasi lainnya yang diinginkan

Peta Topografi

Peta yang menunjukkan bentuk permukaan bumi, termasuk kontur dan ketinggian, yang digunakan untuk menganalisis aliran air dan potensi pembangunan infrastruktur air.

Peta Zona Indikatif

Peta yang menggambarkan area potensial untuk pembangunan atau perbaikan infrastruktur panen air berdasarkan analisis geospasial.

rekondisi DEM (DEM Reconditioning)

modifikasi data DEM dengan cara menyesuaikan ketinggian permukaan DEM agar konsisten dengan cakupan vektor.

sawah tadah hujan

sawah yang sumber air utamanya berasal dari air hujan

Sistem Informasi Geografis (SIG)

Teknologi yang digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis, mengelola, dan memvisualisasikan data geospasial.

SNI 930:2023

Standar Nasional Indonesia yang mengatur pedoman perencanaan dan desain infrastruktur pengelolaan air untuk pertanian.

Strahler

Metode yang digunakan untuk mengklasifikasikan sungai berdasarkan ukuran dan aliran airnya, digunakan untuk menentukan potensi sumber air sungai.

sumur dalam

sumur bor dengan kedalaman lebih dari 60 m dan berdiameter minimum 100 mm sebagai sumber irigasi tambahan

sumur dangkal

sumur gali dengan kedalaman kurang dari 25 m dan berdiameter minimum 1,5 m sebagai sumber irigasi tambahan

Sungai

alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan pengaliran air beserta air didalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan dibatasi kanan dan kiri oleh sempadan

zona

daerah yang ditandai dengan kehidupan jenis binatang atau tumbuhan tertentu yang juga ditentukan oleh kondisi tertentu di sekitarnya

09 • Provenans

Tentang dokumen dan para penyusun

Rujukan utama, kata pengantar, tim penyusun, serta ketentuan penggunaan sebagaimana berkas asli.

Dokumen utama

Peta Zona Indikatif Infrastruktur Panen Air Kabupaten Cianjur — disusun atas kerja sama Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan dengan BRMP Agroklimat dan Hidrologi Pertanian. Hak cipta yang tercantum dalam berkas: ©2025.

Dokumen Word asli disertakan di dalam berkas HTML ini, sehingga unduhannya tetap berfungsi saat offline.

Kata pengantar dari naskah

Potret kepala dinas sebagaimana terdapat dalam dokumen
KATA PENGANTAR

Kepala Dinas

Drs. Ahmad Danial, M.Si

Dengan penuh rasa syukur, kami mempersembahkan Peta Zona Indikatif Infrastruktur Panen Air Kabupaten Cianjur yang merupakan hasil kerjasama antara Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Cianjur dan BRMP Agroklimat dan Hidrologi Pertanian. Peta ini merupakan alat yang sangat penting dalam merencanakan dan mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air untuk sektor pertanian di Kabupaten Cianjur.

Kabupaten Cianjur sebagai daerah dengan potensi pertanian besar memerlukan pengelolaan air yang baik. Peta ini disusun untuk mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan pembangunan atau perbaikan infrastruktur panen air, seperti waduk, embung, dan saluran irigasi. Melalui kerja sama Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan dengan BRMP Agroklimat dan Hidrologi Pertanian, peta ini diharapkan mendukung pengelolaan air yang lebih efisien, meningkatkan ketahanan pangan, dan membantu petani menghadapi tantangan di lapangan.

Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat; semoga peta ini bermanfaat bagi pembangunan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Cianjur.

Cianjur, Oktober 2025 · NIP.19690913 199007 1 001

Potret kepala balai sebagaimana terdapat dalam dokumen
KATA PENGANTAR

Kepala Balai

Dr. Rima Purnamayani, SP, MSi

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga proyek pengembangan Peta Zona Indikatif Infrastruktur Panen Air Kabupaten Cianjur dapat terselesaikan dengan baik. Peta ini adalah hasil kerja keras dan kerjasama yang solid antara BRMP Agroklimat dan Hidrologi Pertanian dan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Cianjur, yang bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang potensi sumber daya alam, khususnya dalam pengelolaan air untuk sektor pertanian.

Melalui peta ini, kami berharap dapat memberikan informasi yang berguna bagi perencanaan dan pembangunan infrastruktur panen air yang lebih efektif dan efisien, serta meningkatkan ketahanan pangan melalui pengelolaan air yang tepat sasaran. Dengan memanfaatkan data geospasial dan analisis yang akurat, peta ini juga diharapkan dapat menjadi acuan penting dalam pengambilan keputusan untuk pengelolaan agroklimat dan sumber daya air di Kabupaten Cianjur.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan peta ini. Semoga peta ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi petani dan masyarakat, serta mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan di Kabupaten Cianjur.

Bogor, Oktober 2025 · NIP. 197606132003122001

Tim penyusun

Penanggung jawab

  • Drs. Ahmad Danial, M.Si
  • Dr. Rima Purnamayani, SP, MSi

Pengarah

  • Inna Ratna Sofia, SP, MIL, M.Sc
  • Husna Alfiani, ST, MT

Penyusun

  • Adang Hamdani, SP, MSi
  • Muhammad Adrian Munaf Karim, S.T.P., MPSda.
  • Mochamad Agustian
  • Aprilian Wingantono, SP
  • Dewi Putri Anggareni, SP
  • Dede Nuriah, A.Md

Redaksi

  • Redaksi: Adang Hamdani, SP, MSi
  • Muhammad Adrian Munaf Karim, S.T.P., MPSda.

GIS

  • Muhammad Adrian Munaf Karim, S.T.P., MPSda.
  • Mochamad Agustian

Disclaimer dari dokumen sumber

Peta Zona Indikatif Infrastruktur Panen Air Kabupaten Cianjur ini disusun sebagai gambaran awal mengenai potensi (indikatif) daerah yang dapat dikembangkan untuk infrastruktur panen air di wilayah Kabupaten Cianjur, dengan tujuan untuk mendukung peningkatan indeks pertanaman. Peta ini bertujuan untuk memberikan informasi umum mengenai potensi tersebut, namun keakuratan dan kelengkapan data yang digunakan dalam peta ini tidak dapat dijamin sepenuhnya. Oleh karena itu, pengguna disarankan untuk melakukan verifikasi lapangan atau kajian teknis lebih lanjut sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi yang disajikan. Peta ini hanya dapat digunakan sebagai acuan indikatif dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan kajian teknis atau penelitian yang lebih mendalam.

Pengguna peta ini bertanggung jawab penuh atas penggunaan data dalam peta ini. Semua keputusan atau tindakan yang diambil berdasarkan peta ini harus mempertimbangkan kondisi aktual di lapangan serta hasil verifikasi yang lebih akurat. Selain itu, peta ini perlu diperbaharui secara berkala untuk memastikan kesesuaian dengan perkembangan data terbaru. Penyusun peta dan pihak terkait tidak bertanggung jawab atas kerugian, dampak hukum, atau konsekuensi lain yang timbul akibat penggunaan informasi yang ada dalam peta ini.

Ketik istilah untuk menampilkan bagian yang relevan.